skip to main |
skip to sidebar
Mata Hati
Mata Hati
Hari yang kelam. Mendung dan gerimis yang turun sejak pagi membuat mentari enggan memperlihatkan wajahnya. Kelam, mungkin menurut sebagian orang. Bukan menurut aku yang sedang menikmati tarian gerimis itu di balkon lantai dua rumah baru milik kedua orangtuaku bersama Timi kucing kesayanganku. Hari pertamaku tinggal di rumah itu. Aku dan kedua orangtuaku baru saja pindah.
Arloji yang ada di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 15.45 WIB. Udara yang semakin dingin seolah merayuku untuk masuk ke dalam rumah. Dan rayuan udara itu akhirnya berhasil membuatku berfikir “Berselimut sambil mendengarkan musik melankolis di dalam kamar pasti akan membuatku merasa lebih nyaman daripada berdiri di balkon ini”.
Ku putuskan untuk masuk kedalam kamar saja. Tetapi ketika aku ingin meninggalkan balkon, langkahku dihentikan oleh suara gesekan biola yang terdengar di telingaku. Walaupun terdengar samar – samar karena tertimpah oleh suara gerimis, suara biola itu tetap terdengar indah, membuatku mematung sejenak di balkon itu.
Ku urungkan niatku untuk masuk kedalam kamar. Aku ingin tahu darimana suara biola itu berasal. Dan ternyata suara itu berasal dari rumah tua yang berada tepat diseberang jalan depan.
Aku menikmati suara biola itu dari atas balkon. Tak begitu lama. Kemudian suara itu menghilang. Dan tak lama setelah itu, aku melihat seorang pria keluar dari rumah tempat asal suara biola itu.
“Dddoooor! Lagi ngelamunin apa sih?”
Kata – kata yang diucapkan dengan suara keras itu tiba – tiba mengejutkanku. Membuatku berhenti mematung. Seperti ku kenal suara itu. dan ternyata suara teman baruku. Ia mengejutkanku sambil menepuk pundakku dari belakang.
Lira. Gadis seusiaku yang baru ku kenal pagi tadi. Dia tinggal tepat disebelah kiri rumah baru ini.
“Bukan melamun Ra. Tapi lagi menikmati suara biola yang sangat indah”
***
“Namanya Azzahra. Seusia dengan kita. Terlahir sebagai seorang gadis cacat yang tidak pernah menikmati rasanya berjalan dan hanya bisa terduduk diatas kursi rodanya. Dia seorang yatim. Hanya tinggal bersama ibunya di dalam sana. Keluarga yang dikenal sangat tertutup” .
Begitu cerita singkat lira kepadaku ketika aku menanyakan tentang penghuni rumah tempat suara biola itu berasal.
“Jadi yang memainkan biola adalah gadis itu?”
Tanyaku penasaran pada lira.
“Entahlah. Aku juga belum pernah melihat langsung siapa yang memainkan biola itu. Tetapi menurut cerita warga yang ada disekitar kompleks ini, yang memainkan biola itu bukan Azzahra, tetapi seorang pria yang setiap hari datang ke rumah itu. Dan pria itu adalah guru les privat biola yang mengajar Azzahra. Tidak hanya biola, Azzahra juga belajar mengaji, seusai isya nanti kamu akan mendengar ayat – ayat Al-qur’an yang dilantunkan dengan sangat indah. Dan suara itu adalah suara guru mengaji Azzahra”.
Mendengar cerita Lira tentang gadis itu, aku merasa lebih beruntung diciptakan dengan keadaan yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan nya. Membuatku tak henti – hentinya bersyukur dalam hati kepada sang pencipta. Tetapi disisi lain hatiku teriris, aku kehilangan harapan, karena tadinya aku sangat berharap yang memainkan biola itu adalah gadis itu. Aku ingin ia memilki kelebihan disamping banyak kekurangannya. Tapi inilah kehndak Nya. Wallahu A’lam.
***
Adzan yang berkumandang mengingatkanku bahwa waktu isya telah tiba. Usai mengerjakan sholat isya aku kembali berdiri di balkon lantai dua. Aku ingin menjawab rasa penasaranku tentang lantunan indah ayat – ayat Al-qur’an yang diceritakan Lira. Tak lama berdiri di balkon itu, aku melihat wanita bermukenah masuk kedalam rumah gadis itu. Dan tak lama setelah itu, aku mendengar ayat – ayat Alqur’an yang dilantunkan sangat indah. Keindahannya melebihi keindahan suara biola yang sebelumnya ku dengar. Memetik dawai damai di hatiku. Membawaku benar – benar dalam kedamaian. Aku terpaku sampai suara itu menghilang.
Setelah suara itu menghiang, ku kembali kedalam kamar dan memutuskan untuk tidur.
***
Hari kedua di rumah baru milik kedua orangtuaku. Hari itu serasa berjalan sangat cepat. Tidak terasa jam telah menunjukan pukul 16.00 WIB. Sama seperti hari sebelumnya, suara gesekan biola menghiasi sore itu. Aku kembali mendengarkannya dari balkon lantai dua. Tetapi untuk yang kedua kali ini, aku tidak bersama Timi, kucing kesayanganku. Entah kemana perginya kucing itu. Dan…
“Meong..meong..”
Tiba – tiba aku mendengar suara Timi. Suara itu berasal dari bawah. Aku melihat Timi melintas keluar pintu gerbang rumah yang terbuka lebar. Lalu ia masuk kehalaman rumah tua yang ada di seberang jalan depan.
Dengan segera aku meninggalkan balkon, berlari turun ke bawah untuk mengejar Timi dan membawanya pulang. Tetapi aku terlambat, Timi telah masuk kedalam rumah tua itu.
Entah apa yang harus ku lakukan saat itu. Bingung membuatku berhenti sejenak di depan gerbang rumah.
Dan tiba – tiba…
“ cacat akan tetap cacat. Belajar 24 jam dan mendatangkan guru privat manapun tidak akan membuat anak itu lebih berguna”.
Kata – kata itu dituturkan oleh salah seorang dari sekumpulan ibu - ibu yang melintas didepanku. Sungguh kata – kata yang tidak seharusnya dituturkan.
Sekumpulan ibu itu pun berlalu. Aku kembali memikirkan Timi. Aku harus membawa Timi pulang. Lalu tanpa berfikir panjang lagi aku berjalan memasuki halaman rumah tua itu kemudian memasuki beranda rumah itu dan berdiri tepat di depan pintu rumah itu. Aku mengetuk pintu rumah yang terbuka sedikit itu Sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum… permisi… Assalamualaikum…”
Tak sampai tiga kali aku mengucapkan salam, seorang wanita setengah baya membuka lebar pintu rumah itu dan menjawab salamku.
“Wa’alaikumsalam… siapa?”
Ia menjawab salamku dan bertanya ramah padaku.
Tetapi, disana aku hanya diam terpaku. Dari pintu yang terbuka lebar itu aku dapat melihat jelas ke dalam ruang tamu rumah itu. Dan Subhanallah… aku dikejutkan dengan keindahan yang luar biasa. Aku melihat seorang gadis berjilbab berparas cantik sedang memainkan biola diatas kursi rodanya. Dan di hadapannya seorang pria duduk memperhatikan gadis itu bermain biola.
“Aku sangat yakin bahwa gadis itu adalah Azzahra. Gadis yang diceritakan Lira padaku”.
Fikirku dalam hati.
“Maaf… cari siapa nak?”
Kalimat itu kemudian menyadarkanku dan membuatku berhenti terpaku.
“Maaf bu… boleh saya masuk?. Saya ingin mencari kucing saya. Tadi saya melihat kucing saya masuk ke dalam rumah ini”.
Tanyaku pada wanita itu.
Lalu wanita itu tersenyum lebar dan berkata :
“Mari sini masuk, kucing kamu ada di dalam”.
Lalu aku pun masuk kedalam rumah itu. Dan didalam sana aku melihat Timi sedang asyik makan diiringi dengan suara biola yang sangat indah.
“Duduk dulu, tunggu kucing kamu selesai makan dulu jika kamu ingin membawanya pulang”.
Sambil menunggu Timi selesai makan, aku duduk bersama wanita setengah baya itu. Obrolan demi obrolan menciptakan keakraban diantara kami. Mulai perkenalan ku sebagai tetangga barunya sampai cerita tentang keluarga wanita itu termasuk tentang Azzahra yang mengajar privat biola dan mengaji.
Bersamaan dengan selesainya obrolanku dengan Ibu Azzahra, Timi juga telah selesai dengan santapannya. Dan tiba – tiba Timi melompat ke arahku dan duduk dipangkuanku. Lalu aku berpamitan untuk pulang.
***
Senang rasanya mengetahui kenyataan ini. Mengetahui bahwa yang bermain biola dan yang melantunkan ayat – ayat Al-qur’an dengan sangat indah itu adalah Azzahra. Mengetahui bukti dari keadilan Tuhan.
Keluarga yang dikenal sangat tertutup itu ternyata adalah keluarga yang sangat ramah. Dan gadis yang dianggap tidak berguna itu ternyata adalah gadis yang sangat luar biasa. Gadis yang mampu mengubur segala kekurangannya untuk menciptakan segenap kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh insan yang sempurna sekalipun.
***
Jangan pisahkan antara mata dan hati dalam menilai sesuatu. Karena dalam menilai sesuatu, mata tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa hati. Kadang, mata indah yang terbuka lebar belum tentu dapat melihat. Tetapi hati yang tak tampak wujud keindahanya dapat menciptakan keindahan yang sesungguhnya.
-wie-
Langganan:
Postingan (Atom)
The Agenda of Wie. Diberdayakan oleh Blogger.
My Profil
- Sity Dwi Purnama Sari
- Hanya insan sederhana yang nggak sempurna, sesederhana kata "aku"...